
gambar : aktivitas fisik sebagai salah satu cara menghindari dan mengelola penyakit hipertensi
Hipertensi merupakan penyakit degeneratif yang harus diwaspadai. Tidak hanya terjadi pada usia yang lanjut, tetapi bisa saja terjadi pada usia dewasa muda karena pola hidup yang kurang aktivitas, stres, dan pola diet yang kurang tepat. puskesmas moyudan melaksanakan pemantauan penderita hipertensi dan juga melakukan penyuluhan agar peserta dapat lebih aware terhadap kesehatannya dan bisa lebih produktif dan tetap terkontrol hipertensinya. Tapi tentunya perubahan hidup untuk menghidari dan mengelola hipertensi yang terbaik adalah dari diri sendiri.
Hipertensi adalah penyakit yang kadang tidak menimbulkan gejala yang berarti. pada setiap orang hipertensi kadang tidak disadari. Ada yang hanya merasa pusing yang dianggap pusing biasa dimana saat diperiksa tekanan darahnya ternyata lebih tinggi dari normal.
Pada pemeriksaan tekanan darah, yang diukur adalah tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan darah diklasifikasikan sebagai normal apabila sistoliknya kurang dari 120 mmHg dan diastolik kurang dari 80 mmHg, atau biasa ditulis dengan 120/80 mmHg
Berikut ini adalah klasifikasi tingkatan dalam hipertensi lainnya :
1.Prahipertensi
Tekanan darah sistolik 120–139 mmHg atau tekanan darah diastolik 80–89 mmHg tergolong prahipertensi. Individu dengan prahipertensi tergolong berisiko lebih tinggi terkena hipertensi.
Jadi jika tekanan darah Anda 110/85 mmHg atau 130/79 mmH, Anda tergolong individu yang berisiko terkena hipertensi. Pada kondisi ini, diperlukan perubahan gaya hidup guna mengurangi risiko Anda terkena hipertensi di masa depan.
2.Hipertensi Tingkat 1
Tekanan darah sistolik 140–159 mmHg atau tekanan darah diastolik 90–99 mmHg. Jika tekanan darah sistolik atau diastolik Anda berada pada rentang ini, Anda sudah memerlukan pengobatan karena risiko terjadinya kerusakan pada organ menjadi lebih tinggi.
3. Hipertensi tingkat 2
Tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau tekanan darah diastolik > 100 mmHg. Pada tahap ini, penderita biasanya membutuhkan lebih dari satu obat. Kerusakan organ tubuh mungkin sudah terjadi, begitu juga dengan kelainan kardiovaskular, walaupun belum tentu bergejala.
4. Hipertensi Krisis
Jika tekanan darah Anda tiba-tiba melebihi 180/120 mmHg, Anda mengalami hipertensi krisis. Pada tahap ini, Anda harus segera menghubungi dokter, terlebih jika Anda mengalami tanda-tanda kerusakan organ seperti nyeri dada, sesak napas, sakit punggung, mati rasa, perubahan pada penglihatan, atau kesulitan berbicara.
Tekanan darah sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis atau kondisi tubuh saat pemeriksaan. Oleh karena itu, untuk memastikan diagnosis hipertensi, perlu dilakukan pengukuran darah minimal 2 kali dengan jarak 1 minggu.
Jika dalam 2 kali pengukuran lalu hasil tekanan darah Anda berbeda jauh, hasil yang akan diambil adalah hasil pengukuran tekanan darah yang lebih tinggi.
Oleh karena itu perlu adanya perubahan gaya hidup agar nda terhindar ataupun bisa mengelola hipertensi. Untuk Postingan selanjutnya, akan dibahas tips – tips mengatasi dan mengelola hipertensi. (tim medsos)
0 Comments